Senin, 18 April 2011

Legenda Puyang Natakerti



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

السلام عليكم dan Selamat Sejahtera

Sejarah singkat

Puyang Natakerti diperkirakan lahir pada tahun 1.500 Masehi. Beliau merupakan anak dari Puyang Kencana Dewa yang bergelar Jaga Niti. Puyang Natakerti adalah salah seorang tokoh masyarakat desa Kurungan Jiwa dimasa yang lampau. Tempat kelahiran beliau adalah desa Kurungan Jiwa, masuk wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. Saat ini desa Kurungan Jiwa digabung dengan desa Baru Lubai, sehingga berubah namanya menjadi “Jiwa Baru” merupakan wilayah dari Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Anak keturunan

Puyang Natakerti mempunyai 3 (tiga) orang anak laki-laki yaitu : Puyang Rentamad, Puyang Riamad dan Puyang Desamad. Adapun anak beliau yang lain penulis tidak ada menemukan data yang akurat, maka tidak dapat dicantumkan nama-namanya disini. Dari anak Puyang Natakerti 3 (tiga) bersaudara ini, melahirkan komunitas kurungan lembak, disebut dalam bahasa Lubai Gugok Kurungan Lembak.

Komunitas kurungan lembak ini, menyebar dari desa Kurungan Jiwa, Kecamatan Lubai ke berbagai desa sebagai berikut :

  1. Desa Gunong Raja, susunan silsilah keturunan : Abu Nikmat bin Aliaqim bin Sinar bin Riamad disebut juga Puyang Lebi bin Natakerti;
  2. Desa Kurungan Jiwa, susunan silsilah keturunan : Haji Hasan bin Aliaqim bin Sinar bin Riamad disebut juga Poyang Lebi bin Natakerti. 
  3. Semua keturunan Poyang Sinar bin Riamad bin Natakerti yang sebagian besar penduduk desa Kurungan Jiwa, merupakan anak keturunan Puyang Natakerti, diperkirakan jumlah populasinya sebanyak 300 jiwa;
  4. Desa Beringin, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, antara Erwadi bin Rofi'i yang pernah jaya memiliki Rumah Makan Rindu Alam di Desa Beringin Lubai;
  5. Desa Aur, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat;
  6. Desa Prabumenang, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat;
  7. Desa Buloh Ilok Kecamatan Rambang, terdapat anak keturunan Puyang Natakerti, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat. Anak keturunan Puyang Natakerti dari desa ini, sering melakukan ziarah ke makam Puyang Riamad yang disebut juga Puyang Lebi;
  8. Desa Umpam, Kecamatan Lengkayap Kabupaten Ogan Komering Ulu, tetapi tidak ada data akurat, sehingga silsilah keturunan tidak dapat dimuat. Pada kunjungan penulis ke desa Umpam pada tahun 1982-an, banyak penduduk disana mengaku anak keturunan Puyang Natakerti;
  9. Di berbagai desa di Provinsi Lampung, diperkira jumlah populasi mencapai 200 jiwa. Penulis merupakan anak keturunan Puyang Natakerti dengan silsilah keturunan sebagai berikut : Amrullah Ibrahim bin M. Ibrahim bin Haji Hasan bin Aliaqim bin Sinar bin Riamda gelar Lebi bin Natakerti gelar Gembeling Sakti bin Kencana Dewa bin Jaga Niti.
Prestasi yang diraih anak keturunan Puyang Natakerti sebagai berikut :
  1. Almarhum Poyang Riamad bergelar Lebi atau Lebai. Semasa hidupnya pernah menjadi tokoh agama islam di desa Kurungan Jiwa. Gelar Lebai merupakan gelar struktural bidang agama islam pada masa itu. Kedudukan dan wewenang Lebai sama dengan Penghulu nagari di daerah Minangkabau, Sumatera Barat;
  2. Almarhum Wak Muhammad Haqi, Semasa hidupnya pernah menjadi tokoh masyarakat di desa Kurungan Jiwa. Jabatan beliau adalah Kerio atau kepala desa Kurungan Jiwa. Kerio merupakan gelar struktural bidang pemerintahan pada masa itu;
  3. Almarhum Ayah M. Ibrahim bin Haji Hasan, semasa hidupnya pernah menjadi tokoh pejuang kemerdekaan diwilayah Sumatera Selatan nomor anggota 33 Komandannya Almarhum Kolonel Sjarnubi Said. Selain sebagai tokoh pejuang kemerdekaan beliau pernah menjabat Sekretaris marga Lubai suku I pada awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946-an. Penggawa kampung satu desa Baru Lubai pada tahun 1965 sampai dengan 1970, Anggota Dewan Marga Lubai suku satu pada tahun 1966 sampai dengan 1969; 
  4. Almarhum Kakanda Biul Burlian, semasa hidupnya merupakan TNI yang bergeriliya dengan pangkat terakhir Kapten. Beliau juga pernah menjabat Pasirah marga Rambang Kapak tengah II yang berkedudukan di Prabumulih.
Adapun anak keturunan Puyang Natakerti yang lainnya, setelah kemerdekaan Republik Indonesia banyak yang berhasil mengukir prestasi dibidang pemerintahan, bidang perdagangan, bidang pertanian. Dengan mempertimbangkan beberapa hal, penulis tidak dapat memuat nama-nama anak keturunan Poyang Natakerti selain yang tersebut diatas.

Berdasarkan info yang didapat penulis, bahwa anak keturunan Puyang Natakerti saat ini telah berhasil meraih prestasi dari berbagai bidang sebagai berikut :

Menjadi Anggota Kepolisian Republik Indonesia, prestasi : mencapai pangkat perwira;
Menjadi Anggota Tentara Nasional Indonesia, prestasi : mencapai pangkat perwira;
Menjadi pejabat di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, prestasi : Eselon II;
Menjadi pejabat di Kementerian Agama Republik Indonesia, prestasi : Eselon III;
Menjadi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan dan sebagainya.

Catatan : Generasi muda keturunan Poyang Natakerti, sebagian besar mereka tidak tahu bahwa mereka itu merupakan anak keturunan Poyang Natakerti.

Harta Peninggalan

Pada mulanya harta peninggalan Puyang Natakerti melimpah ruah. Diantara harta peninggalan beliau adalah berupa tanah lahan pertanian, Tebat, Danau, tanam tumbuh buah-buahan. Akan tetapi dikarenakan penulis tidak mempunyai data-data pendukung yang lengkap, maka penulis tidak dapat untuk menuliskan satu persatu harta peninggalan beliau. Adapun diantara harta peninggalan Poyang Natakerti yang penulis ketahui sebagai berikut :

Tanah untuk lahan pertanian, seluas ribuan hektar terletak di daerah “Air Sabut”, desa Jiwa Baru, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun 1970-an tanah dikawasan ini, pernah dibuka menjadi lahan pertanian : Ladang Padi darat dan Kebun Karet. Yang membuka tanah Puyang Natakerti adalah Masyarakat desa Kurungan jiwa dan Baru Lubai, mendapat dukungan penuh dari pemerintah marga Lubai suku satu yaitu dari Pasirah Abdul Haris. Masyarakat Kurungan Jiwa dan Baru Lubai menamakan kegiatan ini “Proyek Natakerti”.

“Proyek Natakerti” adalah suatu kegiatan bersama yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kurungan jiwa dan Baru Lubai, untuk mencapai tujuan yang luhur yaitu menyongsong kemakmuran bersama melalui pertanian. Untuk mencapai tujuan yang lahur itu, maka dibuatlah sebuah bendungan di Air Sabut. Tinggi bendungan lebih kurang tinggi 15 meter, lebar 45 meter ketebalan 5 meter. Bendungan dibuat menggunakan tanah biasa yang diberi pagar kayu. Tujuan dari dibuatnya bendungan ini adalah menjadi sumber air untuk mengaliran pesawahan dan menjadi tempat memelihara ikan. Adapun kegiatan lain adalah masing-masing kepala keluarga yang tergabung dalam “Proyek Natakerti” mendapa lahan pertanian, seluas lebih kurang 2 (dua) hektar. Lahan pertanian seluas 2 hektar itu dipergunakan untuk menanam padi darat dan membuat kebun karet.. Saat proyek ini dilaksanakan, penulis masih duduk dikelas III Sekolah Dasar Negeri Baru Lubai. Dari proyek ini yang berkesan bagi penulis adalah sebuah pantun yang sering dilantun oleh anak-anak desa Jiwa Baru tatkala itu. Biasanya pantun dilantunkan ketika pergi menuju kelokasi proyek Natakerti, dan saat pulang meninggalkan lokasi proyek Natakerti.

Bunyi pantun anak-anak desa Jiwa Baru Lubai sebagai berikut :

Pagi-pagi pergi ke Proyek Natakerti,
Kalau pergi, jangan lupa membawa nasi,
Walaupun proyek Natakerti telah jadi,
Tapi sayang banyak oyek daripada nasi.

Kesaktian

Puyang Natakerti mempunyai kesaktian mantraguna. Konon ceritanya zaman dahulu kala, jika dipagi hari Puyang-puyang di Desa Kurungan Jiwa berjemur dipinggir Sungai Lubai, beliau duduk bersila diatas mata tombak dalam bahasa Lubai disebut Kujur. Beliau melakukan ini merupakan isyarat bahwa para poyang-puyang itu memiliki daya tahan tubuh yaitu tubuh mereka tidak mampu ditembus senjata tajam.

Pouang Natakerti bergelar Gembeling Sakti. Gembeling artinya terlatih dan Sakti artinya mempunyai daya tahan tubuh kebal terhadap senjata tajam. Dalam arti kata yang luas seseorang yang mempunyai kesaktian adalah sosok manusia mempunyai pelindung tubuh yang baik, mampu menaklukan berbagai jenis binatang buas.

Berdasarkan cerita dari orangtua penulis, para nenek moyang di Desa Kurungan Jiwa zaman dahulu mempunyai peliharaan binatang buas seperti : Harimau dan Ular. Ada suatu tradisi disini yaitu apabila berjumpa dengan binatang buas seperti Harimau dihutan desa Kurungan Jiwa, maka kita harus mengucapkan ”permisi nenek, cucu mau lewat”

Makam

Makam Puyang Nata Kertik terletak dekat rumah Kakak Luth di Desa Kurungan Jiwa ”Jiwa Baru” Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

0 komentar:

Poskan Komentar